Artikel 24 April 2021

PEREMPUAN PENGAWAL DEMOKRASI

(Orasi dalam kegiatan Rapat Evaluasi Pengawasan Pilkada Serentak Tahun 2020: Peran Perempuan Penyelenggara Pemilu dan Pemilihan)

Sejarah peradaban kita menorehkan cerita para perempuan tangguh pada jamannya. Kita mengenal Cut Nyak Dhien, Dewi Sartika, Nyi Ageng Serang, Maria Christina Tiahahu, Malahayati, Maria Walanda Maramis. Kita juga mengenal Raden Ajeng Kartini.

Jauh sebelum itu ada sosok tangguh yakni Ratu Shima putri asal Sumatera penguasa Kalingga. Ada juga Ratu Kalinyamat atau Retno Kencono putri dari Sultan Demak Raden Trenggono.

Keberadaan sosok para pejuang perempuan pada masa yang lalu, menunjukkan bahwa perempuan di Nusantara  sudah berpikir jauh dan melampaui jamannya.

Warisan nilai dari sejarah perjuangan panjang yang semestinya bisa kita internalisasikan dalam peran mengawal demokrasi.

Dari Ratu Shima kita belajar ketegasan, keteguhan dan sikap adil.

Dari Ratu Kalinyamat kita belajar tentang keberanian, kesetiaan dan integritas.

Dari Kartini kita mendapatkan inspirasi sosok perempuan pemikir, pendobrak zaman dan perjuangan melawan dominasi budaya Patriarkhi.

Tiga nilai itu bisa termanifestasikan dalam satu gerakan. Ya gerakan yg terikat dalam satu tema:

Perempuan, Pemilu, dan Demokrasi

Dan kita lah perempuan penyelenggara Pemilu…Pengawal demokrasi di negeri ini.. bukan karena kita beruntung tetapi karena kita memang pantas.

Refleksi perjuangan para pendahulu kita yang berorientasi kepada pemenuhan hak hak konstitusional kaum perempuan, masih sangat relevan digunakan sebagai spirit gerakan kita  menyongsong  Pemilu 2024.

Kita patut bersyukur  menjadi pelaku sejarah peradaban demokrasi elektoral 2019 dan Pilkada  pandemi 2020.

Peran ini memberikan ekspektasi atas peran dan kontribusi perempuan menghadapi pemilu dan pemilihan 2024 mendatang.

Peran Perempuan dalam ranah publik dan politik mempunyai makna yang sangat penting untuk memberikan pemahaman dan menyatukan persepsi tentang pentingnya pembangunan demokrasi yang sehat, adil dan realistis. Karena Inti dari demokrasi adalah upaya menjamin kesetaraan politik bagi seluruh warga, tidak terkecuali kaum perempuan.

Meski representasi kita (kaum perempuan) sebagai pilar demokrasi masih jauh panggang dari api, namun kita sudah berkontribusi maksimal menjaga koridor sebagai penyelenggara pemilu yang berintegritas, sekaligus kita juga berhasil dengan apik dan ciamik mengemban tugas domestik. Kesetaraan memang niscaya, tapi kodrat Hawa tak akan pernah kita lupa.

Dari sosok perempuan yang  tegas namun lembut, berani dan berintegritas serta visioner, kepemimpinan perempuan mempunyai keunggulan sebagai Penyelenggara Pemilu..

“If you want something said, ask a man. If you want something done, ask a woman.”

Jika kamu ingin sesuatu dikatakan, mintalah pada pria. Jika kamu ingin sesuatu dikerjakan, mintalah pada wanita, (The Iron Lady –  Margaret Thatcher)

 

Dan Perempuan adalah penjaga peradaban….

 

Maka banyak-banyaklah merekrut penyelenggara pemilu perempuan…

JAYALAH PEREMPUAN PENYELENGGARA PEMILU….

 

Akmaliyah, S. Pd. I, M. Pd. (Anggota KPU Kabupaten Purworejo)